Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

A journey to remember...


Blog EntryMar 23, '10 10:27 PM
for everyone
Teman, ketika minggu lalu kamu berkata 'Can we talk?' , ada sepercik kebahagiaan di hati. Karena aku tahu, bahwa suatu saat kamu akan berkata begitu, dan saat itu benar terjadi. Tapi aku seperti orang naif dengan menjawab, 'Not now', . Saat itu aku hanya sedang berfikir dan mencoba meraba perasaanku sendiri. Aku perlu sedikit waktu untuk meyakinkan diri sendiri karena aku ingin kita buka babak baru hubungan pertemanan ini.

Mungkin waktu yang telah merubahku atau mungkin juga kamu. Tapi kita memang telah berubah. Lebih dewasa, lebih bisa memahami makna nafas yang kita hirup dan buang.

Teman, kalau boleh aku meminta, kamu boleh meluluskannya ataupun tidak, boleh setuju atau tidak, dan boleh pula berwacana dan berandai - andai. Bukankah memilih akan lebih baik, karena kita memilih dengan kesadaran sepenuh hati. Meski sakit, berdarah dan bernanah.

Teman, buatku, adalah seseorang yang dengannya kita bisa saling menyediakan telinga untuk mendengar, menyediakan tangan untuk memeluk dan menyediakan bahu untuk bersandar.

Ketika kita bersama dalam satu payung karena hujan deras, dan teman kita memilih untuk menepi, kita akan menunggunya. Sampai hujan reda atau sampai saat dia siap untuk melanjutkan perjalanannya. Yang diperlukan bukan sejuta kata bujukan bahwa hujan ini tidak deras, hujan ini takkan membuatmu sakit, dan hey, aku punya payung besar untukmu. Ayo jalan lagi aja. Bukan teman, bukan itu. Tapi teman akan mendengar dan memahami sepenuhnya mengapa kita menepi.

Atau ketika kamu akan bertemu sebuah kebahagiaan besar, di depan mata, tapi kamu urungkan niatmu untuk mendapatkannya, karena alasan - alasan yang entah masuk akal atau tidak, seorang teman tetap akan mendukung keputusan itu. Memahaminya, menyediakan pelukan dan menyertainya dengan do'a bahwa semua akan baik - baik saja.

Tentu saja diskusi akan mewarnai hubungan pertemanan, dengan logika, pengalaman, pengamatan, analisa kita akan makin tajam.

Tapi, bukankah hidup ini bukan masalah menang kalah atau benar salah. Dan kita tak perlu membuktikannya.

Aku tunggu komentarmu.

Salam.





ReviewReviewReviewNov 13, '09 5:28 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Mitch Albom
"Aku memberi kesempatan kepada diriku untuk menangis kalau itu perlu. Tapi setelah itu aku memusatkan perhatianku kepada segala hal yang masih baik dalam hidupku..."

Bukankah kita sering mengutuk hidup dan berteriak tidak adil kepada semesta? Mengapa saya? Mengapa harus saya? Morrie, seorang profesor yang divonis menderita amyotrophic lateral sclerosis (ALS), sebuah penyakit yang menyerang sistem saraf, yang akan menggerogoti kemampuan fisiknya satu demi satu.
Morrie melihat sekeliling dan menyadari bahwa dunia tak berhenti bahkan tak peduli dengan apa yang terjadi padanya. Apa yang harus diperbuat? Sama seperti Mitch, seorang wartawan yang komentar dan tulisannya selalu disambut hangat. Ketika korannya akan bangkrut dan tulisannya tidak muncul, dunia berjalan seperti biasa. Tak seorangpun menunggunya.
Morrie kemudian ingin memberikan kuliah terakhir tentang kehidupan. Dia hanya berfikir masih ada waktu untuk berbagi. Berbagi kepada dunia tentang pilar penyangga kehidupan kita, bagaimana sepantasnya kita bersikap, bagaimana menghadapi ketakutan - ketakutan, mematikan perasaan. Sehingga kita sampai pada sebuah pencapaian. Akhir yang manis.

Morrie dan Mitch, dosen dan mahasiswanya, kemudian memutuskan untuk selalu bertemu setiap hari selasa dan membahas topik - topik kehidupan. Ada topik tentang cinta, uang, penyesalan, keluarga, emosi dan topik - topik lain.

Seperti pada topik uang, Morrie mengatakan bahwa harta tidak dapat menggantikan kasih sayang. Betapapun banyaknya uang dan kekuasaan itu.

Buku kecil yang perlu dibaca, karena kita selalu lupa, bahwa hakekat hidup adalah memberi. Apapun, bagaimanapun, percayalah bahwa kita memiliki sesuatu untuk dibagi.



Photo AlbumPerpisahan damarJun 12, '09 5:09 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Damar masih 1 tahun lagi di TK, tapi sabtu tanggal 6 juni'09 lalu Damar ikutan nge-rame-in perpisahan dengan kakak kelasnya. Meski gerah karena dilaksanakan di outdoor, anak - anak TK itu sangat bersemangat untuk tanpil. Jadilah tampil dengan tari indang, joget entahlah apa itu namanya, baca do'a dan tak ketinggalan baca puisi buat bu guru (Cuma ada tiga guru, bu Ranti, Bu Anti dan Bu Dini). Keesokannya, minggu, 7/6/09, perpisahan dilanjutkan dengan jalan - jalan ke Kampung 99 pepohonan. Ada banyak sih acaranya, flying fox, merah susu kambing, liat ternak sapi, bikin serabi dll. Sayang baterai kamera tiba - tiba matek...

Blog EntryMay 22, '09 5:55 AM
for everyone
Ga tau kenapa, dua minggu belakangan ini, beberapa malamku dihiasi dengan hadirnya Mbah Putri (Alm,). Mimpi pertama adalah tentang sumur keluarga di belakang rumah. Sumur timba ini memenuhi semua kebutuhan primer kami, mandi, masak, nyiram taneman.  Aku dan beberapa sepupu suka sekali duduk di bibir sumur. Dengan diameter sekitar 1,2 meter, tinggi tembok kelilingnya sekitar 80 - 90 cm serta bibir yang cukup tebal, membuat sumur ini pas untuk menampung paha - paha kami yang belum selebar sekarang. Yang paling sering kami lakukan (ada mb Yun, Mb Emmy, Mb Yati) adalah memasukkan beberapa ekor ikan dan saling berlomba ikan siapa yang paling awet bertahan hidup. Ketika musim kemarau tiba, sumur kami begitu dalam sampai kami takut melongokkan kepala ke dalamnya, namun ketika musim hujan datang, wah begitu dangkal, sampai kami ingin tangan - tangan mungil kami dapat menjangkaunya. Ahh, ternyata masih tidak cukup dangkal untuk menjangkaunya. Tapi kami senang bukan main, semakin dangkal sumur dari permukaan, semakin ringan pekerjaan kami. Meski masih kecil, kami dibiasakan menimba minimal untuk memenuhi kebutuhan mandi masing - masing. Ada tiga kamar mandi yang mengelilingi sumur kami. Ketiganya punya mulut untuk menampung dan menyalurkan air ke bak mandi. 
Setiap sore sekitar jam 5, kami paling suka menunggu mbah Putri pulang dari pasar. Menurut cerita ibuku, sejak menikah, Mbah Putri berdagang tembakau dan tetek bengeknya sampai menjadi pedagang besar. Sayangnya, seiring waktu, tembakau tergeser oleh rokok kretek. Kalau waktu hampir menjelang, tak sabar kami bergantian melongok ke gang menunggu Mbah Putri pulang. Setelah terlihat bayangannya, kami berdebar - debar menunggu. Sesampai di dekat sumur kami berebutan membawakan belanjaan dan tas Mbah Putri sementara beliau juga terbirit - birit masuk ke kamar mandi untuk kencing. Setelah kencing, sambil nyengir kami tertib menunggu apa yang akan dilakukan Mbah Putri. Tentu saja yang kami tunggu adalah 'uang jajan'. Senangnya bukan main ketika Mbah Putri membagikan masing - masing 25 rupiah untuk jajan. Hmm....lumayan buat beli es. Tapi Mbah Putri tidak membiasakan memberi kami uang jajan setiap hari. Kadang beliau sengaja hanya membawakan kami makanan dan tidak memberi uang jajan. Ahh tapi itu aja udah bikin kami seneng kok.

Lalu mimpi kedua, tentang kebiasaan kami menghabiskan pagi hari di dapur (Pawon bahasa jawanya). Pawon kami adalah pawon Jawa yang maha luas. Bahkan luasnya melebihi ruang - ruang lain di rumah. Di sebelah barat adalah tempat cuci piring dengan bak mandi pendek yang ditutup dengan penutup dari tripleks dan rak untuk menaruh perkakas masak. Mbah Putri punya koleksi dandang, panci, wajan dan segala macam yang sangat besar menurut ukuranku waktu itu. Mungkin karena keluarga besar, jadi semua serba besar. Lalu di bagian tengah, terletak 6 tungku terbagi ke dalam 2 jalur yang saling membelakangi. Tungku kami tentu tungku dengan kayu bakar. Di sebelah tungku, ada amben yang juga maha luas. Mungkin luasnya sekitar 2,5 x 4 meter. (Amben adalah semacam tempat duduk multi fungsi, terbuat dari bambu. Biasa digunakan untuk meracik makanan). Kami sering berlarian di atas amben kalau sedang tidak ada racikan makanan di situ. Aneh memang.... Dan di belakang tungku barulah ada meja besar sebagai tempat makanan yang telah siap dihidangkan. Di ujung timur pawon kami, Mbah Kakung biasa meletakkan beberapa ayam di dalam kurungan. Kadang ada saja ayam yang bisa lolos dari kurungan. Biasanya kami ketakutan lalu segera naik ke amben.

Nah, ritual pagi kami adalah mandi dengan air panas. Aku ingat, semenjak ditinggal meninggal Mbah Kakung, Mbah Putri duduk di bangku pendek depan tungku lebih lama dari biasanya. Bahkan aku dan kakakku yang akan sekolah, dibuatkan air panas. Sementara Ibu menyiapkan sarapan, aku biasa turut menemani Mbah Putri di depan tungku. Aku ingat betul bagaimana menyalakan kayu bakar dan mempertahankan nyalanya. Di depan tungku bersama beliau, menjadi bagian masa kecilku yang sangat menyenangkan. Meski kami tidak saling bercerita, namun duduk berdekatan saja sudah membuatku nyaman dan tentram.

Dua mimpi itu cukup membuat bayangan di depan mataku tak juga beranjak. Ingatanku melayang bagaimana Mbah Putri selalu bisa mengusir pusing dan flu-ku dengan pijitannya. Entahlah, kalau aku masuk angin atau pilek, meski sudah dikerok ibuku, rasanya belum sembuh kalau belum dipijit. Jadilah Mbah Putri sebagai pemijat spesialku. Mbah Putri juga seorang yang bisa menerima perubahan. Sudah menjadi tradisi Mbah Putri untuk selalu meletakkan kembang di tiap pojok rumah hampir setiap hari. Lalu ada beberapa hari yang diperingati dengan membuat segala jenis bubur, bubur putih,  merah putih, dan sebagainya itu diletakkan dalam nampan dan dibacakan do'a - do'a  menggunakan kemenyan yang baunya mistis itu. Bapakku tidak suka dengan ritual itu, tidak ada aturannya dalam agama dan bahkan bisa dibilang sirik. Tapi kami cucunya justru sangat menunggu moment itu. Apalagi kalau bukan berebut bubur.... Sejalan dengan perkembangan jaman dan masa keislaman yang menguat, Mbah Putri tunduk terhadap petuah Pak Ustadz tentang kebiasaan ini. Pada awal 90-an berakhirlah era kemenyan di keluarga kami.

Banyak pelajaran yang aku ambil dari cara Mbah Putri menyikapi hidup dan kehidupan. Yang selalu membuat kami tersenyum simpul adalah, setiap cucunya (23 cucu) melaporkan lulus sekolah, pasti dijawab Mbah Putri dengan "Sukur alkamdulilah, mugo - mugo cepet dadi guru..." (Syukur alhamdulillah, mudah - mudahan cepat jadi guru...). Sebagai cucu, kami 'iyakan' saja do'anya, meski di belakang kami akan terkikik - kikik....idiiihhhhh siapa juga yang mau jadi guru?

Blog EntryApr 16, '09 6:06 AM
for everyone
Mengapa sih kita bisa 'klik' dengan seseorang sehingga kita menobatkan pertemanan ini dengan persahabatan? Pastinya sih karena memang ada beberapa persamaan entah itu hoby, karakter, kebiasaan atau selera.  

Akupun begitu. Alkisah, Kami bersahabat sejak masih SMP, pertengahan tahun 1985.  Awalnya karena satu kelas dan kebetulan tetanggaan. Jadi berangkat dan pulang sekolah sering bareng. Ternyata dari jalan bareng ketika pulang sekolah, kami menemukan persamaan, suka minum es campur di pasar wates. Terkenal sampai hari ini. Kita menamakannya sesuai dengan nama si penjual, Es Pak Cokro. Setelah itu, selera dan beberapa kebiasaan kami nyambung satu demi satu. Sebagaimana ABG yang bersahabat, selera memang saling mempengaruhi. Ketika sahabatku ini memanjangkan rambut sampai pantat (memang tidak dipotong dari bayi), akupun ikut - ikutan memanjangkan rambut. Lalu gaya kepang kami pun sama, kepang dua!!! Hebatnya, aku punya kakak yang hoby ndandanin, jadi kadang aku punya gaya kepang dari ujung kepala, bersulur hingga kulit kepala kelihatan. Nah sahabatku ini kepingin, tapi apa boleh buat, ibunya nggak bisa, "ah payah kek, ibuku ra iso ngepang koyo koe" (ah payah kek, ibuku nggak bisa ngepang seperti kepanganmu). Tak cukup berteman di sekolah, setelah pulang ke rumah dan makan siang, kami lanjutkan pertemanan kami. Paling sering aku yang main ke rumahnya karena dia anak tunggal, bapaknya kerja di Jakarta dan ibunya guru. Sering dia sendirian di rumah sampai sore. Kami bisa bebas tertawa, bercanda dan tidurr...

Nah bicara tentang tidur, kami memang sangat klop. Sama - sama hoby tidur deh. Dan rasanya cukup parah. Cethut ini kuliah di sebuah universitas swasta yang lokasinya ada di tengah - tengah perjalanan antara wates dan jogja. Sering dalam perjalanan naek motor aku mampir ke kost-nya karena kantuk tak tertahankan. Bahkan hanya aku dan ibunya saja yang tau letak persembunyian kunci kamarnya. Jadi tak perlu tahu apakah dia ada di rumah atau tidak, aku bebas masuk dan tidur di kamarnya. Demikian pula sebaliknya. Kebetulan Cethut ini mengambil jurusan peternakan, dimana kost-ku di Jogja dekat sekali dengan Fakultas Peternakan UGM. Walhasil, kalau dia mencari buku atau mau ketemu pembimbing atau hanya sekedar jalan ke jogja, tak perlu ijin pun dia bisa langsung masuk ke kamarku untuk melepaskan kantuk. Tidak mengejutkan ketika kubuka kamar, sudah ada seonggok makhluk molor...Siapa lagii..... Masalahnya aku juga ngantuk nih, jadi ngungsi ke kamar sebelah...

Tidak hanya di tempat tidur, hoby molor ini terjadi di mana saja. Di motor, di angkot atau bus. Wah parah deh. Kalau di motor, setelah mendapatkan SIM C, kami diijinkan membawa motor ke Jogja. Sering kami boncengan ke Jogja. Awalnya sih masih ngobrol, lama - lama yang mbonceng pasti diem deh...ntah itu aku atau Cethut. So..ya pastilah angin semilir membuat kantuk dan tertidurlah kami di boncengan. Nah kalau di angkot, berhubung wates adalah kota kecil, angkot yang lewat belum sebanyak sekarang, jadi kernet angkot tidak berkeberatan harus selalu membangunkan kami pas di pertigaan jalan yang memang seharusnya kami turun. Resepnya cuma satu, pas bayar langsung bilang ke kernetnya,  "turun di wetan pasar, pretelon Gadingan." (turun di timur pasar, pertigaan Gadingan).  Kalau naik bis besar yang jurusan Solo - Purwokerto, pas bayar kami bilang turun di Karangnongko. Karena bis besar, si kondektur hanya teriak kenceng banget ketika sampai di Karangnongko. Lalu kami terloncat, kelabakan, tapi ketika sudah turun dari bis cekikikan geli sambil bergumam, "Dasar PELOR" (Nempel Molor)...

Bulan lalu, setelah bertahun - tahun kami hanya ber sms dan bertelp ria, akhirnya ada event yang membawa sahabatku ini ke Depok, tempat tinggalku sekarang. Di malam terakhir akhirnya aku jemput dia di Wisma Cimanggis. Sepanjang perjalanan ke rumah, kami ngobrol ngalor ngidul. Sampai juga ke masalah anak - anak. Tiba - tiba dia bilang, "wah gawat kek, anakku ki niru awak dewe lho. Mosok kalau malem kita bangunkan buat pipis, aku tuntun ke kamar mandi, jalan sih jalan, tapi sambil merem. Asli, kencing sambil tidur!! Wis ngono, nek dolan - dolan, lagi lima menit ninggalin rumah udah molor juga tuh si Zidane. Jadi kalo aku mboncengin pake motor, aku iket pake kain!!"*. Ha ha ha....kami ngakak nggak abis - abis. Dan meskipun lama tak bersua, kami tak tahan untuk ngobrol sampai larut. Baru jam 9 malem, kami pun sudah KO, tidur....

Persahabatan kami tak terbatas hanya karena satu dua kesamaan. Entahlah, mungkin ini yang disebut chemistry. Sebagai manusia, pastilah hidup ini tidak selalu seperti yang kita mau. Dan nggak tau ya, sering ketika aku dilanda masalah yang menurutku berat, tiba - tiba ada sms, "Kek, kamu baik - baik aja? Aku mimpiin kamu." Dan air matakupun jatuh....
 


*"Wah gawat kek, Anakku ini meniru kebiasaan kita. Kalau malam, kami bangunkan dia untuk kencing, aku tuntun ke kamar mandi tapi mata tetap merem. Asli, kencing sambil tidur. Udh gitu, kalau bepergian, baru lima menit meninggalkan rumah, pasti sudah tidur. Jadi kalau aku bonceng dengan motor, aku ikat pakai kain!!"


http://bundaelly.multiply.com/journal/item/221/._Lomba_Menulis_Tentang_Sahabat_.?replies_read=407
 

Blog EntryApr 1, '09 3:06 AM
for everyone
Dinda, tante memang nggak kenal dengan Dinda
Bertemu pun belum pernah
Tapi ketika mendengar kabar tentangmu
Tentang bagaimana kamu harus melewati hari - harimu ke depan...
Tentang kenyataan bahwa kamu masih kelas 3 SD!!
Tentang suntik yang harus kamu lalui setiap hari seumur hidupmu

Ketika teman lain minum segarnya Cola di Fast food restaurant
Saat ini, tak sedikitpun benda - benda itu boleh lagi menyentuh jiwamu

Sungguh...tante tidak sanggup membayangkan...
Betapa hari - hari yang akan kau lewati...sungguh berat..
Betapa masa - masa anak - anak dan remaja terlewat
Karena kamu harus ambil darah, cek kesehatan dan ahh....berbagai jarum itu..
Tidakkah kamu takut dinda?

Tapi tante yakin..
Dinda anak yang kuat
Ada ayah dan bunda di samping Dinda
Yang akan mendampingi Dinda sampai Dinda bisa jadi ...apa nak?
Emm....miss world ya? Dokter ya?
Ahh...apapun yang Dinda inginkan..

Ya Allah kalaupun ini ujian untuk hambaMu
Pastikan bahwa Dinda bisa melewati ujianMu
Bisa menjalankan semua amanahMu
Menjadi hambaMu yang taat...
Menjadi pelita untuk orang tuanya...

Amin...



ReviewReviewReviewFeb 2, '09 2:43 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Romance
Author:Nicholas Spark
Sedikitnya ada dua teman yang mengajakku menonton film ini. Dibintangi Richard Gere dan Diane Lane, yang terbayang adalah film romantis. Karena tak kunjung menemukan saat yang tepat, akhirnya film itu berlalu begitu saja dari bioskop. Sungguh mengejutkan, ketika kubeli majalah Pesona edisi Januari, ada dua artikel yang mengupas film yang merupakan adaptasi dari novel Nicholas Spark ini. Tak ragu, ketika ada kesempatan ke TB Gramedia, aku cari novelnya, aduh tinggal 1 eks, dan nyarinya sampai ke dalam – dalam rak. Untung ada!! Wah ternyata bukunya hanya tipis saja, sudah tidak berbungkus dan harganya 35 ribu.

The Inn
Adalah Adrienne, seorang ibu dari 3 anak remaja yang sudah tiga tahun ditinggalkan suaminya (Jack) karena memilih menikahi teman kantornya yang jauh lebih muda dan menurutnya memiliki banyak kelebihan dibanding Adrienne. Meskipun Jack selalu mengirimkan kewajiban keuangan bulanan sesuai keputusan pengadilan, namun rasa sakit hati, mengasuh 3 anak remaja yang mulai nakal, serta ayahnya yang tiba – tiba stroke membuat hari – harinya terasa berat dan pedih. Pertanyaan yang bertalu – talu di dadanya adalah, apa yang salah dengan diriku? Aku sudah berusaha sekuat tenaga menjadi ibu yang baik bagi anak – anak, mengantar jemput mereka, menemani mereka belajar, menemani mereka les, selalu hadir dan menonton mereka ketika tampil dalam drama sekolah, pertandingan olah raga dan kegiatan lain. Yang tak kalah penting menurut Adrienne adalah, bahwa diapun selalu menyayangi dan memperhatikan Jack. Dia menjaga badannya supaya tetap seksi, memasak masakan kesukaan Jack dan kegiatan ibu rumah tangga lain sebagaimana lazimnya. Kebutuhan hidup yang meningkat dan perlunya penanganan khusus terhadap penyakit ayahnya membuat Adrienne harus mengambil pekerjaan paruh waktu di perpustakaan. Pada minggu itu, secara kebetulan sahabatnya - pemilik sebuah penginapan “The Inn” yang berlokasi di pinggir pantai harus menghadiri pernikahan kerabat di luar kota sementara ada 1 tamu yang akan menginap selama 5 hari. Akhirnya dia meminta bantuan Adrienne menjaga penginapannya untuk 5 hari itu.
Paul Flanner adalah tamu yang akan menginap di penginapan itu untuk sebuah keperluan. Adrienne dan sahabatnya hanya bisa menduga bahwa tamu yang akan menginap pastilah pebisnis atau memiliki urusan yang sangat penting karena dalam 5 hari itu, diramalkan akan terjadi badai yang cukup kuat. Sebelum pergi, sahabatnya telah mengatur segala sesuatu termasuk berbagai alat yang diperlukan untuk berlindung dari badai. Paul tiba di penginapan dan agak terkejut karena meja penerima tamu kosong meski terlihat sudah ada kantong – kantong belanjaan di meja dapur. Dilihatnya pintu dapur terbuka. Karena beberapa saat tetap saja tidak ada orang yang menyambutnya, terpaksa Paul berjalan melewati dapur dan menuju bagian belakang penginapan. Seketika itulah dilihatnya seorang perempuan berdiri sendirian, melamun memandang pantai. “Maaf, apakah saya mengganggu?”
Adrienne terlonjak dan segera mengusap pipinya ketika diketahuinya bahwa tamu yang ditunggu telah tiba. “Oh tidak, justru saya yang harus meminta maaf karena tidak mendengar kehadiran Anda. Mari, silakan masuk ke dalam”. Paul tercekat melihat pemandangan di depannya, seorang wanita yang sedang menangis. Tiba – tiba hatinya meleleh… Sore itu akhirnya Paul lewati dengan mengajak Adrienne minum teh bersama meskipun Adrienne merasa belum nyaman menerima ajakan Paul karena dia hanyalah penjaga penginapan. Dari etika, dia juga merasa kurang etis menerima ajakan tamu untuk minum bersama. Tapi Paul berbeda, cara bicaranya, bahasa tubuhnya, seperti ajakan seorang teman. Meski agak canggung, Adrienne menerima tawaran untuk minum bersama dan tak terasa mereka ngobrol seperti teman lama sampai waktu makan malam tiba. Adrienne pamit untuk menyiapkan makan malam, namum Paul malah mengikutinya ke dapur dan membantunya memasak. Setelah membantu mengupas kentang dan menyiapkan beberapa hal lagi, Paul mencuci seluruh tangannya termasuk jari – jarinya dengan sabun. Setelah ngobrol sana sini, akhirnya Adrienne pun tahu bahwa Paul adalah seorang dokter bedah yang ditinggalkan istri dan anak semata wayangnya karena kesalahannya sendiri. Paul adalah anak seorang petani miskin yang minder dengan teman – temannya. Karena itu dia bertekad harus keluar dari jerat kemiskinan dan memaksa dirinya menjadi juara sebagai pelajar sekaligus atlet. Dia percaya bahwa keberhasilan bisa ditempuh dengan usaha yang sungguh – sungguh, tidak mengandalkan bakat. Karena itu dia menghabiskan waktunya dengan berlatih lari setiap subuh dan belajar tak kenal henti. Berhasil masuk di Fakultas kedokteran dan hanya perlu tiga setengah tahun saja untuk menyelesaikannya, dilanjutkan dengan mengambil spesialis bedah. Ketika lulus kuliah kedokteran, dia diperkenalkan dengan Martha, mahasiswi fakultas hukum yang kemudian dinikahinya dan menghadiahinya seorang anak lelaki. Paul terus mengasah kemampuannya dengan bekerja 90 jam seminggu dan tidak pernah mengambil hari libur. Martha dan anak lelaki mereka, Mark selalu hanya berdua apabila pulang ke rumah orang tuanya. Bahkan Martha sampai mengubur keinginan untuk memilki anak lagi karena kesibukan Paul. Kekayaan Paul terus bertambah sampai dia tidak mampu mengelola sendiri dan membayar manajer keuangan pribadi. Dalam dua tahun kekayaannya berlipat dua, dan dua tahun kemudian berlipat empat. Semua sudah dimiliki namun Paul tetap tidak berhenti menghukum dirinya sendiri untuk terus bekerja dan berprestasi sampai suatu hari Martha menginginkan perpisahan. Mark, yang mengikuti jejaknya sebagai dokter, dalam suatu kesempatan makan siang berdua juga mengungkapkan kemarahannya atas sikap ayahnya dan memutuskan pergi ke Equador menjadi dokter relawan. Paul baru merasakan hatinya hancur dan menyadari bahwa dirinya berlari terlalu cepat. Untuk siapa semua ini? Paul tahu bahwa dia berlari hanya untuk dirinya sendiri… Suatu ketika, seorang suami pasien menuntutnya karena dianggap telah mengakibatkan istrinya meninggal setelah dioperasi oleh Paul. Dari hasil rekaman video operasi, standar operation procedure, rekam medis pasien, pengalaman Paul dengan operasi meningioma yang sudah ratusan kali seharusnya pasien tersebut baik – baik saja. Seharusnya tidak ada ajal yang menjemput. Akhirnya Paul ke Rodanthe untuk menemui suami pasien dan ingin mengakhiri masalah ini dengan baik – baik. Apabila masalah dengan pasien ini selesai, dia sudah berniat menghabiskan sedikitnya 1 tahun menemani anak lelakinya di Equador sekaligus menjalin hubungan kembali.
Adrienne berempati dengan kondisi Paul dan terus mendorong untuk menyelesaikan masalahnya dengan baik – baik dan menemui anaknya di Equador. Di satu sisi, mendengar cerita Adrienne, Paul tiba – tiba seperti bertemu teman lama bahkan rasa kagumnya kepada Adrienne semakin kuat. Setelah malam beranjak, mereka berpisah dan masuk kamar masing – masing. Tak ada yang tahu bahwa tak satupun yang berhasil memicingkan mata karena debar yang tiba – tiba menyelinap. Besoknya, Paul berkunjung ke rumah suami pasien dan menerima umpatan dari anak maupun suaminya. Kata sang suami, “Anda tidak tahu, betapa berharganya istri saya dimata saya dan anak – anak. Dialah ibu terbaik yang selalu bisa menjadi pendar cahaya ketika kami miskin maupun penyejuk ketika kami memiliki rejeki lebih. Dialah wanita terhebat yang pernah kami miliki. Dan saya tidak tega ketika dia merengek minta dioperasi karena mengganggu penampilannya padahal apapun keadaannya saya tidak pernah berhenti mencintainya dan tidak akan pernah meninggalkannya”. Paul menerima saran Adrienne dengan mendengarkan keluhan keluarga pasien dan manerima dengan lapang semua caci maki dan umpatan, sampai suami pasien kemudian berkunjung ke penginapan, meminta maaf dan memutuskan bahwa masalah mereka sudah selesai.

Badai
Hari berikutnya adalah saat indah yang mereka lewati berdua di pinggir pantai. Meski badai datang lebih awal dengan kekuatan yang lebih besar, benih cinta yang bersemi telah membuat mereka tidak merasakan badai itu sampai hari perpisahan tiba. Paul berjanji bahwa ia akan menemani anak lelakinya selama 1 tahun saja di Equador dan kembali untuk menghabiskan hidupnya dengan Adrienne.
Sejak pertemuan itu, dan disambung dengan surat – surat yang terus mereka kirimkan, Adrienne merasa telah menemukan kembali hidupnya, berdamai dengan Jack dan bahkan istri barunya. Adrienne tidak pernah melewatkan harinya tanpa bercerita dengan ayahnya yang meskipun mukanya sudah lumpuh setengah selalu antusias mendengarkan ceritanya dan matanya selalu berbinar.
Tiba – tiba Paul tidak pernah lagi berkirim surat dan Adrienne kembali bersedih, menangis dan bertanya mengapa nasib baik selalu tidak berpihak kepadanya. Ayahnya tetap menjadi pendengar terbaik dan mendorong Adrienne lebih memperhatikan anak – anak untuk melupakan kesedihannya. Sampai suatu hari, Adrienne dikejutkan dengan sebuah surat dari Mark Flanner yang ingin berkunjung dan berjumpa dengannya. Mengapa Mark? Mark kemudian bercerita bagaimana dia melalui hari – hari dengan ayahnya di Equador. Mark ingin marah melihat kedatangan ayahnya, apalagi dia membayangkan ayahnya pastilah ikut campur di kliniknya, memberinya masukan – masukan yang tidak perlu, mengkritik dan hal lain yang menyebalkan. Ternyata dia keliru, ketika ayah datang, dia hanya bilang “Hai…”, kemudian dia tidak sekalipun menyanggah atau menanyakan apa yang dilakukan Mark. Ayahnya membantu di klinik sesuai apa yang diminta, tidak membantah dan memberikan masukan ketika diminta saja. Setelah itu saya tahu bahwa Ayah yang menyumbang alat dan obat untuk klinik relawan tersebut. Hati saya mulai cair terlebih di suatu cuaca yang buruk, saya mengabarkan bahwa mobil jeep saya rusak sehingga tidak dapat pulang ke kota, padahal badai akan memporak porandakan bukit. Paul menyewa jeep dan menyetir sendiri menjemput saya di bukit. Paul menyetir dengan sangat hati – hati sampai terlihat lampu klinik di kota. Saya memandangnya dari samping dan merasakan bahwa dia adalah bapak saya, bukan sekedar bapak biologis. Tiba – tiba ada tikungan tajam, Paul mengerem mendadak namun ban slip dan mobil kami bergulingan masuk jurang. Saya dan Paul terhimpit jok, saya mampu membebaskan diri dan terus memompa semangat Paul untuk bertahan, namun dia hanya meminta maaf atas segala perbuatannya yang lalu terhadap saya. Dan Paul tidak mampu bertahan..”
“Saya tahu, bahwa sebelum bertemu dengan Anda, Paul telah sedikit berubah, namun Andalah yang mampu mengubah Paul sampai sedemikian. Tak ada yang lebih pantas saya ucapkan kecuali terima kasih…”

Pendengar setia
Adrienne belum selesai menceritakan seluruh masa lalunya ketika Amanda, putrinya yang telah memiliki dua putra dan suaminya meninggal karena sakit 8 bulan lalu bertanya, “Mom, sungguh aku tak tahu bahwa 18 belas tahun lalu mom mengalami kondisi yang sangat menyedihkan. Lalu siapa yang mampu membuat Mom bertahan?” Adrienne memang merasa baru sekaranglah saat yang tepat menceritakan masa lalunya kepada Amanda karena sudah 8 bulan ini Amanda selalu murung, anak – anak terlupakan, rumah berantakan dan tidak percaya diri dengan masa depannya.
“ Ayah, your grandpa yang mampu membuat mom bisa melangkah hari demi hari. Mom selalu meyakinkan dalam hati untuk satu hari saja. Setiap pagi Mom selalu menguatkan diri bahwa Mom akan mampu melewati hari ini. Dan Ayahlah yang selalu menyemangati mom dengan berkata “Aku selalu bangga kepadamu” dalam setiap kondisi Mom.


Blog EntryNov 20, '08 9:25 AM
for everyone
Minggu ini kami dikejutkan dengan hadirnya SK Dekan di masing - masing meja disertai sebuah amplop tertutup rapat. Judul SK Dekan cukup jelas "SK Dekan tentang Kebijakan Gaji Pegawai Non Akademik FKM UI". Sebelum baca aja dah kebayang isu - isu yang beredar belakangan hari pasti ada benarnya.

Dan tralala...ternyata benar sekali gosip - gosip itu.

Dibakukannya gaji pokok persis cis seperti SK Rektor yang keluar bulan Juni lalu dan diberlakukan hanya untuk pegawai Rektorat/PAUI. Seperti biasa, FKM harus lebih maju dari Rektorat dong. Kalau rektorat hanya menetapkan gaji pokok saja sehingga bisa 'leluasa' memasukkan item lain, FKM tidak hanya menetapkan gaji pokok 'yang lebih kecil' dari SK Dekan sebelumnya, tapi juga penetapan tunjangan jabatan, tunjangan suami/istri, anak, transport, makan dll. Oke deh, itemize itu memang wajar. Yang tidak mengenakkan adalah, THP kita selama ini kemudian dibagi ke dalam item - item tersebut. Tentunya disesuaikan dengan yang telah ditetapkan. Hasilnya? Tentu saja sebagian besar (mungkin malah semuanya) gajinya menjadi 'kegedean'. Sehingga dalam SK juga ditetapkan bahwa mereka yang kegedean tidak akan menerima kenaikan gaji sampai disusul teman - teman seangkatan. Dalam beberapa kali kesempatan pleno non akademik, manajer sdm selalu mengungkit - ungkit bahwa gaji karyawan fkm cukup besar dibanding fakultas lain. Alhamdulillah dong....but..abis SK ini keluar kita kasak kusuk tanya ke fakultas lain. Dan guess what? Olala ternyata biasa aja tuuhh..... Apalagi FE. Gubrak deh

Iseng ada teman yang tanya ke bagian SDM. Emang kenaikan gaji berkala itu berapaan sih bu? Dijawab "Seperti kenaikan gaji PNS" Warakakak...sampai pensiun juga masih kegedean nih bakalan.... Jadinya ntar diitung utang apa gimana nih?

Gara - gara salah satu item yang turut dibagi adalah tunjangan transport sebesar 25 ribu/hari, maka bagi yang tidak hadir baik sakit maupun cuti tidak akan mendapatkan uang transport. Setuju banget dengan konsep itu. Sayangnya ga liat kondisi. Tahun cuti berlaku mulai tanggal 1 feb sampai 31 januari tahun berikutnya. Ini SK berlaku mulai 10 Desember. Berarti setelah tanggal 10 desember kalau ambil cuti ga dapet transport dong = penurunan THP. Belum lagi kalau libur banyak, tinggal dikit lagi transportnya.

Whua.....unitku kebetulan (karena memang kami harus gantian cuti) sebagian besar masih memiliki hak cuti 6 - 11 hari kerja!! Demi tidak dipotong transport, berbondong - bondong mau ngabisin cuti sebelum tanggal 10 desember. Hasilnya, ada beberapa hari ke depan dimana 3 cowok andalan bersamaan menghilang. Ampun deh....

Mana ya, sense of management, sense of crisis dan hebatnya lagi mana leadership-nya?
Semua muaranya selalu 'punishment'.... Bayangkan, 3 hari telat, dipotong 150 ribu!!
Aku sih bodho amat, yang kubayangkan mak rogaya yang selalu terbirit - birit ngejar cap jempol karena anaknya banyak, so jangan sampai kena potongan. Bukan, i love FKM. I will doing my best for you!!

"You have to be able to listen well if you are going to motivate the people who work for you" (Lee lacoca)

Blog EntryOct 21, '08 5:11 AM
for everyone
Hari minggu tanggal 5 oktober'08 atau hari ke 5 lebaran 1429 H matahari sungguh cerah. Teriknya membuat orang malas keluar rumah. Tapi acara spesial yang merupakan agenda dadakan tidak menyurutkan langkah kami untuk hadir melawan udara panas yang menyengat.

Ya, kami berkumpul kembali, setelah lebih 15 tahun berpisah. Masing - masing bawa jagoan atau 'princess'nya dan beberapa bawa pasangan. Ahh...ternyata kami masih seperti dulu. Meski badan sudah banyak yang melar kanan kiri, depan belakang, tapi kami bertemu dengan tawa yang sama!! Canda yang sama!! Bangganya kami sekelas di SMA. Dari dulu kami memang terkenal karena kekompakannya. Kompak belajar, kompak jalan - jalan sampai kompak BOLOS!! Inget dulu sampai dihakimi guru BP yang notabene bapaknya Didik, teman sekelas kami karena kompak bolos pelajaran sejarah. Tidak untuk main, tidak untuk hura - hura. Tapi kami belajar karena esoknya ulangan fisika. Gaya belajar kami juga sangat menyenangkan. Diantara kami tidak ada perasaan 'lebih' dibanding teman lain. Yang paling pinter, -mas haryanto- jadi mentor buat yang lain. Yang nggak ngerti, nggak malu tanya dengan teman lain. Begitu untuk semua mata pelajaran. Mungkin hal ini juga yang mengikat kami begitu dalam, membuat kami saling merindukan untuk bersua, bercanda kembali sembari saling mengejek...

Kini kami telah memiliki tanggung jawab yang lebih besar dan berpencar ke penjuru negeri bahkan dunia mencari penghidupan. Ada mas lukman di Qatar, Didik di Aceh (bentar lagi ke Cirebon ya Dik...congrat for your career promotion), Iskak di Palembang, aku, totok dan beberapa teman lain di Jakarta, Rojab di bandung, Ana di Garut, Iwuk, Sari, Ardi, susilo yang setia menjaga 'home town' sampai ngiler pingin ngerasain mudik..., toto susilo (ada 2 susilo di kelas kami), mas ari di jogja dan tempat - tempat lain.

Meski banyak kebahagiaan terpancar, tak urung kami juga menyimpan duka. Mas lukman yang ditinggal istrinya ketika melahirkan putranya, Iwuk yang ditinggal putra kesayangan ketika berusaha menolong temannya di sebuah sungai yang sedang berpusaran. Lalu, hari kedua lebaran, Enggar, sahabat kami juga ditinggal istrinya. Untuk Enggar, kami hanya bisa menghormati segala keputusanmu...

Kembali bertemu tidak untuk mengingat - ingat masa lalu, tapi kami berfikir dan menantang diri kami sendiri untuk bisa mengambil tanggungjawab yang lebih besar lagi.

Lalu, siang itu, di RM Bu Hartin, RM baru di Wates, lesehan..(wah 'gaya' sekarang kita ya, bisa makan di restoran. Pas SMA? boro - boro, setiap acara ulang tahun cuma bisa nge bakso....) kami ikrarkan untuk kembali ke SMA, dengan program Alumni Peduli. Program pertama yang ingin kami lakukan adalah menjadi orang tua asuh untuk para anak - anak Mister (Miskin tapi pinter..), lalu program lain bisa menyusul kemudian.

Rasanya ucapan mas haryanto sebagai mantan ketua kelas di awal pertemuan itu sangat pas, sejauh - jauh kita mencari kebahagiaan, yang paling hakiki dan tak terlupakan adalah ketika kita bisa berarti untuk orang lain.

Salam...

Blog EntrySep 18, '08 3:16 AM
for everyone
Kisah Mbak Tanti

Rumah hook di salah satu blok perumahanku itu sepi sekarang. Tanaman hias yang mengelilingi pagar sudah meranggas. Catnya mulai mengelupas. Sungguh beda dengan 1 tahun lalu, dimana ada dua anak lelaki kecil dengan sepasang orang tua yang bisa dikatakan 'perfect'. Sang mama, seorang marketing manager di sebuah radio yang ngetop di Depok. Papanya, seorang tentara, Angkatan Udara dengan badan tegap dan perut rata. Gaya busana mereka? Sungguh mencitrakan fashionista sejati. Betapa kami sebagai warga RT sungguh iri dengan kedekatan hubungan 'suami-istri' itu. Pernah suatu sore kami ibu - ibu arisan makan di sebuah resto, kebetulan mbak tanti adalah salah satu ibu yang diwajibkan bawa mobil. Ketika lewat depan rumahnya, suaminya sedang menyemprot tanaman. Trus mereka saling cium jauh gitu lhoo..... Wuih....kami yang di dalam mobil ketawa sekaligus 'iri' melihat kemesraan mereka. Belum lagi kemesraan yang mereka tunjukkan kalau ada rapat RT yang harus dihadiri bapak/ibu. Datang berdua, kadang bergandengan tangan, sungguh membuat kami ber'decak kagum...
Terakhir kami lihat kemesraan mereka di depan umum pada waktu lomba 17 agustusan dimana sang suami ikut bermain dalam tim 'gobak sodor' dan mbak tanti setia menunggu sambil membawa aqua dingin siap minum. Sementara kami ibu - ibu yang lain memilih asyik ngobrol atau sibuk ngurusin anak yang liar lari kesana kemari..., boro - boro mikirin suami. Haus? Tuh ada aqua di pos satpam!!

Sayang, persis 1 tahun yang lalu, berita menyedihkan itu datang. Ada orang ketiga yang merusak perkawinan mereka. Sontak biduk rumah tangga mereka oleng, dan diakhiri dengan perpisahan. Kami sedih, ikut merasa 'eman' (bhs jawa = sayang) dengan tragedi itu dan hanya bisa menyayangkan mengapa begitu mudah keputusan diambil. Kabarnya rumah itu menjadi salah satu harta gono gini. Keduanya memilih hengkang dari perumahan. Yang jelas, mbak fitri - bendahara arisan RT hanya bisa ngomong ke aku'

"Mbak uki, jadi siapa yang musti nagih arisannya mbak Tanti. Kan penjenengan ketua arisan to...." Ups...apes...

Tanti = bukan nama sebenarnya


Kisah Mbak Tike

Mbak Tike yang berperawakan subur dengan tiga putra/i selalu terlihat gembira bahkan selalu ngocol yang saru - saru. Hobinya bikin masakan apa aja asal dari jengkol. Dan rupanya di RTku sudah ada jengkol clubs....

Mbak Tike juga dikaruniai keluarga yang harmonis. Sebagai ibu rumah tangga, dia sibuk mempersiapkan keperluan anaknya sehingga suaminya - seorang pegawai telkom - tenang bekerja. Beberapa pertemuan arisan mbak Tike tidak hadir dengan alasan ambeien suaminya sedang kambuh.
Ramadhan 1427 H, atau 2 tahun lalu, vonis dokter jatuh. Setelah berkunjung ke beberapa dokter dan RS, akhirnya dokter memvonis bahwa ini bukan ambeien namun kanker.
Kemudian, diagendakanlah operasi besar di RS Swasta Internasional di kawasan Jatinegara.
Entah apa yang terjadi, namun ketika perut sudah dibelah, diketahuilah bahwa sel kanker sudah menyebar ke penjuru tubuh. Bahkan sudah sampai ke liver.
Akhirnya, operasi dibatalkan dan dibuatlah pembuangan di bagian perut. Tak tahan untuk berada di rumah sakit, mbak Tike meminta rawat jalan saja.

Kemudian dimulailah hari - hari berat itu. Ketika dia harus rajin membersihkan -maaf- kotoran sang suami, memandikan dan menyuapi. Termasuk menyiapkan makanan khusus supaya sang suami bisa makan. Setiap bertemu secara tidak sengaja, mbak Tike selalu menjelaskan kondisi suaminya, tidak bisa tidur di malam hari, tidak mau makan, dan keluhan lain yang membuat kami meneteskan air mata. Sementara ketiga anaknya juga masih kecil yang membutuhkan perhatian besar. Untunglah anak - anak mengerti...sehingga mereka berusaha mandiri.

Usaha alternatif sempat dicoba, namun hasilnya nihil. Hanya enak sebentar kemudian sakit lagi. Karena serangan sakit terutama dirasakan di malam hari, pada siang hari, setelah bisa tidur beberapa saat, suami mbak Tike melanjutkan pekerjaan. Dengan bekerja di perusahaan telekomunikasi, maka akses memang sangat mudah. Jadi meski sakit, suami saya tetap bekerja kok, hasil pekerjaan dikirim via internet. Begitu seterusnya, sampai akhir 2007, setelah benar - benar drop beberapa hari, akhirnya Allah memanggil suaminya untuk selamanya.

Kami tidak kaget, mengingat kondisinya yang tidak kunjung membaik lebih dari 1 tahun perawatan. Mungkin ini memang jalan terbaik, dan pasti Allah telah menyiapkan rencana lain.

Diantara kesibukan kami, ibu - ibu RT 4 dan RT sebelah menyiapkan ronce kembang melati, kami berdiskusi, melamun, dan salut atas kesetiaan, keikhlasan, ketelatenan dan kekuatan mbak Tike merawat suaminya.

Dan bulan ini, satu tahun sudah peristiwa itu berlalu. Mbak Tike sudah bisa tersenyum, ikutan arisan lagi dan sering muncul di acara TK maupun ultah anak - anak. Bahkan kami sudah berani meledek "jadi kapan nih mbak cari pasangan lagi, ntar karatan lho..."


Kisah Mbak Sita

Hanya selang 1 rumah dari Mbak Tike, tinggal pasangan muda yang baru dikaruniai 1 putra, Barend namanya. Ketika berusia sekitar 1 tahun, papanya mencoba mencari peruntungan nasib ke negeri Paman Sam. Memang 2 kakak papa Barend sudah lebih dulu kesana dan kabarnya lumayan berhasil. Artinya, bisa hidup layak. Sejak itu, Barend hanya tinggal dengan mamanya yang juga ibu bekerja.

Pernah suatu sore, sekitar 4 bulan setelah ditinggal papanya, aku lihat mama Barend antusias motret di taman depan rumahku. Sambil jepret sana sini, dengan senyum cerahnya mama Barend cerita kalau suaminya sudah mendapat pekerjaan di bidang pariwisata. Kalau dari ceritanya sih kaya di sebuah resort atau semacam itu deh... Yang membuat senyumnya lebih mengembang adalah janji sang suami yang akan menjemput mereka 6 bulan lagi. "Meski masih agak lama, tapi minimal ada kepastian kalau kami mau diajak kesana..." gumamnya sambil terus mengarahkan Barend untuk bergaya di prosotan...

6 bulan berlalu ternyata suaminya belum bisa mengajak tinggal ke Amerika, karena itu dia berjanji bulan depan akan pulang. Berhubung anakku sering main dengan Barend, otomatis si mbak anak - anak ini juga bersahabat. Henny (yang momong anakku) pernah suatu sore antusias cerita bagaimana rumah Barend heboh dengan kehadiran sofa, tempat tidur baru yang dibeli mamanya. Semua untuk menyambut kehadiran suaminya bulan depan.
Tunggu punya tunggu, 1 bulan, 2 bulan, begitu seterusnya, sang suami tak juga muncul.

Puncaknya, beberapa bulan mama Barend tidak muncul di arisan, tidak nitip arisan dan akhirnya kami memutuskan untuk tidak menyertakan mama Barend dalam arisan. Untung baru mulai 2 bulan, jadi ada ibu lain yang kemudian menggantikan ikut arisan.
Masih versi para mbak di kompleks, pada suatu sore diangkutlah barang - barang dari rumah itu entah mau dibawa kemana.

Yang lebih menyesakkan, suatu hari Henny cerita kalau mertua mama Barend bertanya kepadanya, "Mbak, Barend dan mamanya pindah kemana ya?"
Oalah.....



Blog EntrySep 15, '08 12:01 AM
for everyone
Sebagai orang tua yang anaknya menginjak kelas 12, yang terbayang adalah persaingan ketat mencari Perguruan Tinggi terbaik. Kredo yang masih terus berlaku adalah, alumni  universitas terbaik akan mendapatkan pekerjaan terbaik. Dan sebagai orang tua, melihat anak bisa berdiri di atas kakinya sendiri kelak adalah kebahagiaan hakiki.

Lalu, sebagai orang tua, tiba – tiba saya jadi rajin menyambangi pameran pendidikan, searching internet, bertanya kesana kemari bagaimana caranya supaya anak tercinta diterima di Universitas terbaik, tetap bisa berkomunikasi, berdekatan dan memantau perkembangan pendidikannya. Meski saya adalah dosen UI, tentu keinginan anak tetap menjadi prioritas. Karena itu, saya dan juga orang tua yang lain bertanya kepada anak – anak kami bidang apa yang menjadi minat kalian, ingin kuliah dimana, berapa biayanya?

Lalu mereka mengajak kami untuk melihat pameran pendidikan yang diselenggarakan sekolah mereka dengan mengundang perguruan tinggi ternama semacam UI, ITB, IPB, UNPAD, UGM, TRISAKTI dan universitas lain.  Rata – rata PT tersebut juga berpartisipasi.

Semua universitas berlomba menarik minat calon mahasiswa dengan kualitas terbaik. Rata – rata PT tersebut menawarkan beberapa alternatif jalur masuk dengan konsekuensi yang berbeda.
Sebagai alumni UI, beberapa dari kami sebagai orang tua sangat mengharapkan anak kami dapat menjadi mahasiswa UI, toh tidak dapat dipungkiri, UI tetap terbaik.

Sayang, jalur masuk UI masih tidak jelas dibanding dengan Universitas Negeri lain. Meskipun punya anak dengan prestasi sangat baik di sekolah, jangan tanya bagaimana khawatir, cemas dan malunya mereka apabila tidak dapat masuk Universitas Negeri. Belum Ujian Akhir Nasional yang masih menjadi beban tersendiri.

Karena itu, solusi terbaik adalah mendapatkan bangku kuliah secepat dan sepasti mungkin. Bagi orang tua, semakin cepat mereka mendapat kepastian diterima, semakin cepat kami harus bertindak, mengalokasikan uang, mencari tempat tinggal yang layak apabila diterima di PT luar kota, mencari bahan – bahan kuliah dll. Satu masalah telah terpecahkan. Tinggal masalah menyelesaikan UAN dengan baik.

Lalu, sebagai anak, telah diterima di Perguruan Tinggi Negeri meskipun dengan jalur yang menguras kantong orang tua dan BUKAN UI tetaplah menenangkan dan tidak menurunkan harga diri mereka apabila tidak lolos SNMPTN. Telah diterima di Perguruan Tinggi justru menambah semangat mereka untuk juga menyelesaikan UAN.

*) keluhan dosen UI terhadap jalur masuk UI

ReviewReviewReviewReviewJun 30, '08 4:52 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Kids & Family
'Kemarin adalah sejarah
Besok adalah misteri
Hari ini adalah Anugrah'

That's why today is called 'present'

Kata - kata yang meluncur dari Kungfu Master kepada Master Shifu tadi hanyalah salah satu pesan moral dari Film Keluarga yang disetel berbarengan dengan liburan sekolah, KungFu Panda.


Film yang penuh adegan lucu ini sebetulnya menyimpan sejuta pesan moral. Bagaimana sebuah kelompok yang terdiri dari 5 makhluk berusaha didesain oleh Master Shifu (Guru KungFu) sebagai kelompok yang akan menghadapi keganasan Tiger, si pemberontak yang sewaktu - waktu akan datang mengambil gulungan di mulut naga. Gulungan ini dipercaya sebagai gulungan keramat yang akan membuat sakti siapapun yang berhasil mengambilnya dan membaca isinya.

Sayang, Master Kungfu tidak 'sreg' dengan kelompok ini dan membuat event untuk mencari KungFu Master yang sebenarnya. Secara tidak sengaja, jatuhlah si Panda Gendut, Po ke arena event dan langsung menunjuk Po menjadi KungFu Master.

Selanjutnya.....ahh sebaiknya nonton sendiri deh...

Ga rugi juga kalau nanti DVDnya beredar dijadikan koleksi...

Cheerss.....


Photo AlbumBerkarya bersama KawanJun 22, '08 9:34 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Bingung deh kalau mulai liburan sekolah. Anak - anak yang biasa beraktivitas seharian trus cuma nonton tivi. Baca novel jadi ngebut banget, 1 hari bisa habis 2 novel. Waduh....kasih kerjaan apaan ya? Pagi sore dah main badminton ma temennya, nah siang - siang ngapain nih? Bosen juga ke mall.

Akhirnya, kucari buku ketrampilan di toko buku. Pilih aja yang paling mudah. Membuat pembatas buku. Lumayan, dengan peralatan sederhana, kami bertiga (Lintang, aku ibunya dan Rani teman sekaligus tetangga) membuat kreasi ini. Hasilnya tidak mengecewakan dan tiba - tiba sudah sore deh....

Lintang semangat membuat lagi, biar di setiap koleksi novelnya ada pembatas buku buatannya. Seneng ketika dia bilang 'ih bagus deh...'

Photo AlbumDemam batikJun 6, '08 3:52 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Ayuuu....kami di lantai 2 dekanat FKM UI juga pakai batik loh. Kembar lagi....

Blog EntryMay 30, '08 6:12 AM
for everyone
Dear Tari,
untuk sebuah persahabatan
untuk sebuah kenangan manis di kantor kecil kita
untuk pelajaran hidup yang sangat berharga
mb uk hanya bisa berdo'a
yang terbaik yang akan kau terima...

Sekitar setahun lalu ketika kami meributkan kapan kami terlepas dari jeratan koperasi usman, sungguh mb uk terkejut karena kamu, ri', seorang wanita yang baru akan dewasa, single ternyata punya jawaban ringan, "kapan lagi bantu orang tua mbak kalau nggak sekarang mb"...

Saat itu mb uk langsung tergetar.  Dengan usia sekitar 10 tahun lebih tua dari kamu ri', tiba - tiba kurenungkan,, bahwa sungguh, aku belum memberikan apapun untuk orang tua. Bahkan deraan masalah yang membuat kerut mereka makin nyata terlihat yang kuperbuat. Untuk seorang single di metropolitan, mb uk sungguh harus mengacungkan jempol untuk pengorbanan yang luar biasa.  Anggap tabungan masa depan ya ri', ikhlas...karena yang Di Atas akan punya jawaban sendiri untukmu...

Kemudian... aku juga tahu ada banyak cobaan yang untuk sebagian orang sungguh merampas hak dan kebahagiaan. Tapi kamu enteng melewatinya, tetap berusaha tertawa dan coba - coba mencari lagu - lagu yang cocok menggambarkan suasana hati. Inget nggak lagu 'gantung' yang tiba - tiba jadi favorit...ahh masa lalu ya say...

Dan jum'at minggu lalu, tanggal 23 Mei 2008, setelah 2 minggu cuti dan mencoba bekerja di tempat yang lebih pantas, akhirnya kamu pun memutuskan, bahwa kantor baru akan memberikan energi dan semua hal yang lebih baik.

Kami berpelukan, menangis, dan merasakan bahwa kebersamaan di kantor ini yang baru sepenggalah waktu harus berakhir. Kapan kita bisa makan bareng lagi di bu kebot ya ri'... Kamu nggak kangen dengan sayur asem n tempe bacemnya???

Tapi yang pasti Ri', mb uk yakin, kalaupun nanti ada banyak cobaan menerpamu, kamu akan berhasil melewatinya....meski dengan tangis dan langkah gontai...

Kami tetap di sini, menyiapkan pelukan dan telinga untukmu...

Tak lupa sebait do'a untuk kesuksesanmu...
Met kerja di tempat baru yaa...semua akan baik - baik saja...



http://bundaelly.multiply.com/journal/item/221/._Lomba_Menulis_Tentang_Sahabat_.?replies_read=407


Photo AlbumAngel IslandMay 29, '08 2:51 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
belajar motret, tapi uploadnya kok lama bener nih. jadi 1 dulu ahhh

Blog EntryApr 21, '08 5:33 AM
for everyone

“Tiiinnnn…tiinnn.” Klakson angkot di belakangku sungguh membuatku terlonjak dan…lho…kok miring nih…lho kok miring…aarrgghh…jatuh deh..gubrak!!!

Baru 20 meter keluar dari kompleks yang jalannya menanjak, aku sudah terjerembab di rerumputan yang masih basah oleh embun. Kulihat tatapan kasihan sekaligus bibir yang menahan tawa dari penumpang angkot…Hmm….awas ya!! Sengaja tak kuhiraukan mereka dan kembali kukayuh sepeda saja. Aduh…aduh…paha…o o ini gigi musti dipindah biar ga berat. Hmmm…kiri pindah gigi satu, kanan pindah jadi dua. Nah enteng…tapi…astaga lama benerr nih tanjakan ga habis – habis…

 
Sepenggal kisah tadi hanyalah satu cerita dari kehebohan baru di ruanganku. Sudah dua pekan kami habiskan beberapa hari dengan berangkat dan pulang kantor naik sepeda. Berawal dari kisah klasik para wanita yang tidak tahan makan namun tidak hobi olahraga. Sebelum bersepeda kami sudah mencoba berenang, lalu fitness tapi itulah, semua panas – panas tahi ayam. Semangat belanja baju olah raga doang deh….

 
Meski bersepeda juga masih bisa disangsikan, namun kami bertiga (aku, ninis dan rini) optimis bakalan awet menekuni hobi ini. Kalau aku jelas, tuh sepeda belum dibayar alias gesek n belum ada tagihan…jadi kudu semangat dong. Kalau ninis semangat supaya ketika tiba saat harus beli sepeda telah terbukti bahwa kami serius sepedaan. Nah Rini punya maksud lain…karena ingin mengecilkan bagian tubuh khususnya bagian bawah ….(haa….ya nggak say…). Lepas dari semua motivasi itu, motivasi terbesar kami bersepeda lebih supaya kami nyaman makan makanan berkalori dan berkolesterol tinggi. Gorengan, soto ayam n soto daging pakai santan, nasi padang…..wah banyak deh menu harian makan siang yang membuat kami serasa berdosa kalau tidak dibuang dengan keringat…

Dan pagi ini, ketika udara cukup menyengat, dijemput oleh dua rekan (adi dan wiwied), bertiga kami jemput ninis dan bersama menuju kantor. Jalanan yang ramai sebetulnya cukup membuat kami agak cemas dan waspada. Namun ketegangan di jalan raya sontak hilang ketika roda depan sepeda kami melompati pagar kuning pembatas Universitas dan kampung sekitar. Ahhh…lega…akhirnya kami masuk ke jalur sepeda yang bebas dari si motor raja jalanan dan angkot biru sembarangan.

Di bawah rindang pinus, sapa riang selamat pagi dari rusa – rusa membuatku sejenak melupakan senyap yang belum pergi. Terus berkelok dibelakang masjid UI, menyusuri danau yang bersimbah cahaya pagi. Teriakan burung pipit seolah menemani kayuhan kami yang mulai melambat seiring keringat yang membasahi punggung. Lalu tetesan getah dari jajaran pohon karet di samping rektorat yang senyap, membuat hatiku juga meleleh membuang sedih yang masih bergelayut.  

 

 


Blog EntryApr 4, '08 1:44 AM
for everyone

Tidak seperti Ninis yang sudah 2 (dua) kali menjadi saksi pemilihan dekan oleh rektor, aku baru kali ini menyaksikannya. Di satu sore dengan anomali cuaca, sebentar hujan lalu panas terik, kami menyaksikan bagaimana ketiga kandidat dibantai oleh jajaran Rektor. Ketiganya, Pak Sjahrul, Pak Adang n Pak Bambang berusaha menjawab pertanyaan dengan sebaik dan seme-yakinkan. Sebetulnya bagi kami, kehadiran kami disana lebih sebagai pembuktian apakah mimpinya Ninis n Rini tepat. Malam sebelumnya mereka bermimpi Pak Bambang yang jadi. Sementara feel-ku bilang Pak Adang. Meski nggak 100% yakin. Tidak seperti pemilihan rektor ketika aku yakin banget Pak Gumilar yang bakal dipilih. Dan bener.

 

Dan tepat pukul 17.15 hari Rabu tanggal 27 Maret 2008 yang lalu, dengan mantap Pak Rektor berkata “Kami telah memutuskan bahwa Dekan FKM adalah Saudara….Bambang!!” Huaa…….tuh dua anak ya, langsung jingkrak – jingkrak. Pokoknya mimpinya bener….ga peduli ntar kalau Pak Bambang jadi Dekan trus FKM ngapain mau kemana dst dst. En gue dong…..duh sialan, bakalan wajib nraktir mereka ntu. Huuu……ntar aja deh…abis gajian (he..masih lama ya pren).

 

Lalu suasana kampus kembali memanas dengan gonjang ganjing seputar siapa wakil dekannya. Memang periode lalu, wakil dekan sangat membantu pekerjaan Dekan bahkan tak jarang suara miring mengatakan kalau Wadek sangat berkuasa. Kasak kusuknya lumayan kenceng. Ada yang  bilang karena dekannya bukan dokter, ya wadeknya harus dokter dong. Lalu kami list daftar dokter yang kira – kira bisa bekerja sama dengan Pak Bambang. Bingung…sapa ya? Wah enakan kita di rotasi kali yaa….Buat kami supporting, posisi wadek memang penting karena dialah yang akan melakukan pekerjaan day to day. Nah kalau nggak asyik kan…gimana gitu.

 

Cerita tentang Pak Bambang, sebetulnya beliau pernah menjabat Wadek selama 2 tahun pertama kepemimpinan Pak hasbullah (dekan lama), lalu resign karena ga tahan tekanan dari mana – mana. Maklum, waktu itu perubahan mendasar sedang terjadi, integrasi, ujian mandiri, ujian kompre, kategorisasi dosen, rotasi staf admin, Sistem Akademik Terpadu, Sistem Keuangan Terpadu….pokoknya bikin kacau dunia persilatan. Semua orang marah, complaint, sekaligus ga peduli… Kami bisa maklum karena waktu itu bapak baru pulang dari sekolah, ada idealisme besar sekaligus kenyataan yang sungguh memprihatinkan. Dan mundur mungkin adalah langkah terbaik yang harus ditempuh.

 

Awal maret lalu, ketika pak Bambang menguji di lantai dua gedung B, dia sempat mampir ke humas masih dengan gayanya. Kami seperti berteman dengan beliau, tertawa ngikik – ngikik. Aku inget banget dengan ledekan kami yang diakhiri beliau dengan ‘awas ya kalau saya jadi dekan…’ Wow…kok kejadian yaa…

 

So, sambil telp ngasih tahu acara pelantikan dengan SKSD aku tanya aja, jadi siapa dong WDnya pak? “Rahasia…, biar kamu deg – deg-an”

“Ihh…bapak nggak asyik ahh…”

 


ReviewReviewReviewMar 10, '08 3:19 AM
for everyone
Category:Other
Buat apa hidup di dunia ini kalau tidak untuk bahagia? Lalu apa bahagia itu? Kata bahagia laiknya sebuah mantra yang begitu abstrak. Andai ’bahagia’ bisa diukur dan hasilnya adalah sesuatu kepastian, tentu kita semua bisa mencapainya.
Kadang tanpa sadar kita mengukur kebahagiaan dengan segala sesuatu yang berada di luar kita, seperti harta benda yang kita miliki. Coba aku punya mobil, bahagia kali ya...nggak harus desak – desakan di kereta, bisa bawa keluarga jalan – jalan dst. Coba aku punya rumah gedhe plus kolam renang ...hmm pasti enak tiap hari bisa berenang. Kalau...aku punya ini..itu..pasti bahagia deh. Lalu kita coba lihat orang lain yang memilikinya dan meyakinkan diri bahwa mereka pasti bahagia. Padahal sering sekali kita tidak mendapatkan kebahagiaan seperti yang dibayangkan ketika kita mencapai atau memiliki apa yang diidamkan. Setelah punya mobil, punya rumah oh..ternyata rasanya gini aja ya...(pasti kita pernah mengalami untuk hal – hal lain, ternyata biasa aja...tidak seperti yang kita bayangkan bahkan cenderung langsung hilang rasa itu).
Budha Gautama mengatakan, ”Keinginan-keinginan yang ada pada manusia-lah yang seringkali menjauhkan manusia dari kebahagiaan.” Ia benar. Kebahagiaan adalah sebuah kondisi tanpa syarat. Kita tidak perlu memiliki apapun untuk berbahagia.
Mungkin 3 resep ini benar adanya.
Resep Satu : Rela memaafkan. Coba renungkan kata subhanallah. Tuhanlah yang Maha Suci, sementara manusia adalah tempat kesalahan dan kealpaan. Kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidaksempurnaannya. Dengan memahami konsep ini, hati Anda akan selalu terbuka untuk memaafkan orang lain.
Seorang dokter terkenal Gerarld Jampolsky menemukan bahwa sebagian besar masalah yang kita hadapi dalam hidup bersumber dari ketidakmampuan kita untuk memaafkan orang lain. Ia bahkan mendirikan sebuah pusat penyembuhan terkemuka di Amerika yang hanya menggunakan satu metode tunggal yaitu, rela memaafkan!
Resep Dua : Bersyukur. Coba renungkan kata alhamdulillah. Orang yang bahagia adalah orang yang senantiasa mengucapkan alhamdulillah dalam situasi apapun. Ini seperti cerita seorang petani miskin yang kehilangan kuda satu-satunya. Orang-orang di desanya amat prihatin terhadap kejadian itu, namun ia hanya mengatakan, alhamdulillah.
Seminggu kemudian kuda tersebut kembali ke rumahnya sambil membawa serombongan kuda liar. Petani itu mendadak menjadi orang kaya. Orang-orang di desanya berduyun-duyun mengucapkan selamat kepadanya, namun ia hanya berkata, alhamdulillah.
Tak lama kemudian petani ini kembali mendapat musibah. Anaknya yang berusaha menjinakkan seekor kuda liar terjatuh sehingga patah kakinya. Orang-orang desa merasa amat prihatin, tapi sang petani hanya mengatakan, alhamdulillah. Ternyata seminggu kemudian tentara masuk ke desa itu untuk mencari para pemuda untuk wajib militer. Semua pemuda diboyong keluar desa kecuali anak sang petani karena kakinya patah. Melihat hal itu si petani hanya berkata singkat, alhamdulillah.
Cerita itu sangat inspiratif karena dapat menunjukkan kepada kita bahwa apa yang kelihatannya baik, belum tentu baik. Sebaliknya, apa yang kelihatan buruk belum tentu buruk. Orang yang bersyukur tidak terganggu dengan apa yang ada di luar karena ia selalu menerima apa saja yang ia hadapi.
Resep Tiga : Tidak membesar-besarkan hal-hal kecil. Coba renungkan kalimat Allahu akbar. Anda akan merasa bahwa hanya Tuhanlah yang Maha Besar dan banyak hal-hal yang kita pusingkan setiap hari sebenarnya adalah masalah-masalah kecil. Masalah-masalah ini bahkan tidak akan pernah kita ingat lagi satu tahun dari sekarang.
Penelitian mengenai stres menunjukkan adanya beberapa hal yang merupakan penyebab terbesar stres, seperti kematian orang yang kita cintai, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini bolehlah Anda anggap sebagai hal yang ”agak besar.” Tapi, bukankah hal-hal ini hanya kita alami sekali-sekali dan pada waktu-waktu tertentu? Kenyataannya, banyak sekali hal-hal kecil yang kita pusingkan dalam hidup.

Jadi mulai saat ini, ucapkan mantra saja ”Saya sudah memilih untuk bahagia apapun yang akan terjadi.”

*) Dikirim melalui email oleh sahabat, telah diedit

MusicMar 2, '08 10:35 PM
for everyone
If you leave me now, youll take away the biggest part of me
No baby please dont go
If you leave me now, youll take away the very heart of me
No baby please dont go

A love like ours is love thats hard to find
How could we let it slip away
Weve come too far to leave it all behind
How could we end it all this way
When tomorrow comes well both regret
Things we said today

A love like ours is love thats hard to find
How could we let it slip away
Weve come too far to leave it all behind
How could we end it all this way
When tomorrow comes well both regret
Things we said today

If you leave me now, youll take away the biggest part of me
No baby please dont go
Oh girl, just got to have you by my side

No baby, please dont go

Oh mama, I just got to have your lovin, yeah

Weve come too far to leave it all behind

Pages:123